Assalamu'alaikum.... ^_^ Bertemu Anak Indigo, Ciri-ciri Anak Indigo (Cerita W Atropurpurea)

Bertemu Anak Indigo, Ciri-ciri Anak Indigo (Cerita W Atropurpurea)

Bertemu Anak Indigo, Ciri-ciri Anak Indigo (Cerita W Atropurpurea)
Bertemu Anak Indigo, Ciri-ciri Anak Indigo (Cerita W Atropurpurea)

KARENA AKU TERLALU PEKA

Aku memiliki sifat yang cukup perasa, itu membuatku cepat marah dan tersinggung dan kemudian bila terlalu dalam maka akan sakit (tak enak badan). Setelah telponan dengan seoang teman malam lalu, aku pun jatuh sakit. Tak seperti biasanya, kami banyak bercerita kali ini, termasuk masa kecilku. Dan entah kenapa, ujung-ujungnya ada pembahasan yang membuatku sangat tak nyaman. Aku merasa terganggu sehingga sentak mematikan telpon. Dadaku tak nyaman, tubuhku langsung meriang. Seolah aku berada pada kondisi yang 'ia bicarakan di telpon' dan rasanya sangat sakit. Tapi aku lebih suka diam.

Paginya aku langsung demam, badanku lemas dan tak semangat. Mungkin selain 'pembicaraan itu' juga karena seseorang sedang tak enak hati sebab ulahku, dan tubuhku dapat merasa itu. Terlalu peka. 

Semenjak beberapa hari ini kebetulan aku selalu asik mengajak mama pergi ketempat 'Bunda' (sebutan saja) untuk mengecek kondisiku yang terkadang tak stabil. Ada banyak masalah yang kuhadapi, hal itu juga yang membuatku mengunjungi ulama hari Jum'at kemarin. Aku bertanya mengenai masalah yang kuhadapi, tentang makhluk gaib yang bersemayam bersamaku. "Tapi dia baik," jelasku. "Dia bisa mengobati orang. Dan dia jin islam. Kata seorang tabib, supaya saya tak sakit, ia harus ditetapkan. Apakah itu bisa? Tidak melanggar aturan Islam?"

"Saya tidak punya ilmu itu," balasnya. "Saya tidak bisa melihat jin, tak tahu pula dia dimana. Saya tidak tahu menjawab apa. Saya tidak mengatakan boleh, tidak pula mengatakan tidak boleh. Tapi, kalau itu menyakiti, untuk apa memelihara penyakit? Lebih baik kita berdoa saja supaya ada jalan keluar terbaik dan obat yang mujarab."

Aku menghela napas berat. Tubuhku mulai duduk dengan sigap. Aku tahu, 'Ia' sedang ingin menunjukkan keberadaannya. Mama mengajak bangkit dan salaman lalu menuliskan permasalahan yang kuhadapi di secarik kertas untuk kemudian diberikan pada seorang santriwan di sana. 

"Hari ini kita ke tempat Bunda, ya?" ajakku mengotot pagi kemarin, selasa. Wajahku berantakan, aku bahkan belum cuci muka setelah bangun tidur. Seluruh otot dan tulangku rasanya tak ada tenaga. Mama menjawab, "Iya, tapi kita masak dulu." 

"Iya," balasku. 

Setelah semua siap, aku mandi lalu shalat zuhur sekelak. Rumah kemudian kami tinggalkan tanpa di kunci karena kebetulan adikku, Susi, sedang kedatangan teman kampusnya, dan mereka sedang membuat tugas mitem. 

Rumah Bunda itu tak terlalu jauh dari rumah kami, namun untuk ke sana aku butuh dandan sekelak. Karena melewati banyak tempat. Di sana, aku diherankan dengan seorang wanita tanpa jilbab serta celana yang pendeknya sebetis menyapa kami. Wajahnya jelas sekali tak berbedak, apa adanya. Mama langsung tersenyum kepadanya, wanita itu terlihat cukup ramah. "Saya baru selesai menyuci," katanya. 

Aku langsung menyalaminya, dalam hatiku, "Oh, pantas." Kumicingkan mataku sambil berpikir lagi, "Ini pasti Bunda. Ya ampun, kenapa bisa berubah begini?" Seingat aku dulu, ketika aku masih kelas 2 SMA, wajah dan penampilannya tak begini. Mulutnya penuh dengan warna sirih, dan kulitnya nampak agak kusam serta agak tomboi. Beda dulu, ia sungguh berpenampilan sholeha serta cantik. "Ah, mungkin karena itu sudah lama, beliau juga sudah agak tua sekarang. Tapi... apa aku akan seperti itu nanti?" Aku menggeleng. "Tidak, tidak, tidak....! Aku harus selalu nampak muda dan cantik. Harus!"

BERTEMU ANAK INDIGO

Bunda kemudian menyilakan kami masuk ketempat praktiknya. Tempatnya dipenuhi dengan obat-obatan herbal, dan meja kerjanya terlihat rapi. Nyaris seluruh dinding ada lukisan, membuatku takjub. "Siapa yang buat lukisan itu?" tanyaku. "Saya," balasnya. "Saya kalau resah tak bisa diam. Jadi melukis."

Ya ampun, aku juga begitu! Hanya saja sekarang tak begitu lagi. Sekarang aku lebih suka ngeblog dan ngutak-atik Website ketimbang lain-lain. Kemampuan seniku di bagian itu seolah mati. Sejenak terbesit untuk meminta mengajari, tapi tak jadi karena malu. Kemudian datang seorang anak kecil dengan rambut di kepang satu, poninya tampak berantakan tapi cantik, Wajahnya manis. Dia duduk dekat Bundanya yang berada di seberangku, sementara mama duduk di sofa sebelah tempat duduk Bunda. 

"Nanti Sambung lagi, ya..... ^_^ Print RPP dulu... "

Penulis: W. Atropurpurea
Admin
Seorang sarjana salah jurusan, penggemar Naruto, hobi membaca komik, nonton Drakor dan Menulis Puisi, Cerpen dan Novel. Pencinta alam dan penggemar Edelweis.

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool