Assalamu'alaikum.... ^_^ Jika Ini Akhirku (Jejak Pena W Atropurpurea)

Jika Ini Akhirku (Jejak Pena W Atropurpurea)

Jika Ini Akhirku (Jejak Pena W Atropurpurea)
Tanpa suara, dunia terasa berbeda. Gelap. Mata hanya mampu berkedip berbalutkan air sebening kaca. Dalam hening, suara kecemasan silih berganti. Bagai lantunan lirih pengantar tidurku nanti.

Seolah, mereka hanya berikhtiar tanpa guna. Sesekali aku mengoceh, tapi cepat² kurapatkan bibirku agar bunda tak bersedih. Teriris dadaku ketika kukata, "Sepertinya ajalku sudah dekat," kemudian bunda menyahut pilu, "Kami tak sanggup kehilangan lagi. Jangan tinggalkan kami."
Meski hanya jadi mayat pura² selama lima hari, kubur pura², suasana yang tak selalu sendirian, aku sering ketakutan.... Lalu, bagaimana kalau ini benar² akhirku? Aku benar² menjadi mayat, sendirian bersama ulat, ular dan lipan di dalam liang kuburku? Menyaksikan tubuhku sendiri membusuk? Dan aku bahkan tak bisa pulang ke dunia ketika aku rindu. Aku takut Ya Allah! Bahkan ketika semua jamaah suluk menangis ketika tawajuk, mengingat akan dosanya di masa lalu dan masa ketika ia masuk kubur, aku tidak menangis. Tapi kali ini, aku benar-benar takut.
Selama ini, aku memang sering bepergian, berbeda dengan adik-adikku. Bertahun-tahun aku menuntut ilmu di negeri orang dan jarang pulang. Usai dari itu, aku pergi ke tempat lain selama beberapa bulan. Berbeda dengan anggota yang lain, aku memang sering bepergian. Tapi, ketika sudah di rumah, aku jarang kemana-mana, lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop. Bagiku, melakukan hobiku seolah tiada rasa lelah. Tak heran ketika aku berbenah lima hari yang lalu dan mengatakan, "Aku akan pergi lagi, rumah ini akan sunyi." Adikku menjawab, "Kamu pergi mah sudah biasa." Tapi, bagaimana bila kepergianku bukan untuk pulang lagi? 
Tapi, bagaimana bila kepergianku bukan untuk pulang lagi?
Malam ini, 02 Oktober 2017, dengan tubuh bagai tak bertulang, kuikuti langkah bunda untuk ikhtiar. Meski aku sudah menutup harapan, aku tak ingin beliau pun merasakan hal yang kurasa. Aku ingin masih ada sebongkah harapan yang beliau simpan di dalam dada untuk kesembuhanku. Dan aku, bahkan kami semua, tak lagi menaruk benci kepada siapapun yang menjadi perantara Allah atas sakitku ini. Kami ikhlas, seperti jalan suluk yang telah kutempuh--mengubah rumus hidupku; "Engkau yang kumaksud Ya Allah, tiada lain. Keridhaan Engkau yang kutuntut, tiada lain." Jadi, tak ada yang perlu disalahkan kenapa hal ini bisa terjadi, sebab Allah sudah Ridha maka semua terjadi.

Seperti ketika pertama aku mulai menulis di blog ini, hanyalah sebagai rekam jejak hidupku. Aku tidak tahu kapan malaikat maut benar-benar mempersuntingku, tapi aku masih ingin melukis beberapa kisahku di sini. Bukan ingin untuk orang tahu, tapi hanya sebagai kenangan bagiku. Kalau-kalau aku masih berumur panjang, jejak ini adalah pelajaran paling berharga untukku. Sebuah jejak keikhlasan--tanpa keluhan, hanya bercerita--yang tertoreh cukup dalam. 

Dalam gelap di perjalanan pada 02 Oktober 2017, menerobos angin dan cakrawala, kuhirup napas sedalam-dalamnya. Kubayangkan kembali lima hari yang lalu aku pernah memamandikan mayat diriku sendiri, mandi taubat dan mandi nur di dalam suluk. Setelah itu masuk ke dalam kelambu yang seolah² itu adalah kuburku. Kutinggalkan segala urusan duniaku saat itu hanya untuk bertemu Allah. Kutatap tanah dan kukata dalam hati, "Asalku dari tanah dan aku telah kembali ke tanah." Saat itu, tubuhku bereaksi. Aku kesakitan. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi semua urat-uratku rasanya hendak putus. Aku bergetar. Bahkan ketika shalat, aku tak bisa untuk tidak bergetar. Lima hari di sana, hanya kuhabiskan untuk shalat, zikir, pengajian, puasa dan selalu menjaga wudlu serta menahan sakit yang luar biasa. Tapi aku ikhlas. 

Meski hanya jadi mayat pura² selama lima hari, kubur pura², suasana yang tak selalu sendirian, aku sering ketakutan.... Lalu, bagaimana kalau ini benar² akhirku? Aku benar² menjadi mayat, sendirian bersama ulat, ular dan lipan di dalam liang kuburku? Menyaksikan tubuhku sendiri membusuk? Dan aku bahkan tak bisa pulang ke dunia ketika aku rindu. Aku takut Ya Allah! Bahkan ketika semua jamaah suluk menangis ketika tawajuk, mengingat akan dosanya di masa lalu dan masa ketika ia masuk kubur, aku tidak menangis. Tapi kali ini, aku benar-benar takut.

Lima hari di dalam kubur pura-pura, menjadi mayat pura-pura, meninggalkan segala urusan dunia sesaat, aku merasa rindu yang dalam kepada keluargaku. Aku rindu kembali ke dunia. Rindu melihat mentari esok pagi di balik tirai jendela kamarku, rindu menghirup udara yang kadang kala membawa harum bunga-bunga kecil yang ada di hadapan rumah ke dalam kamarku. Aku rindu melihat jalanan yang biasanya kulalui dengan membawa sepeda motor santai bersama adikku. Aku bahkan rindu berada di hadapan laptop untuk menikmati hobiku. Tapi, bagaimana bila kerinduan itu hanyalah menjadi kerinduan? Aku tak bisa melihatnya lagi meski bara rindu membantai dadaku dengan kobaran halilintar? Aku hanya bisa terdiam dengan dua pilihan; susah atau senang. 

Bahkan aku masih punya impian. Aku pun ingin hidup normal seperti orang-orang. Aku ingin menikah dengan pria yang kucinta, baik dan selalu setia bersamaku. Aku ingin kami punya anak pertama laki-laki yang diikuti dengan perempuan dan ditambah sepasang lagi. Aku ingin mereka semua hafiz Alqur'an. Dan kami, menjalani kehidupan dengan penuh kecintaan kepada Allah dan Rasulullah. Setiap hari hidup penuh dengan kehangatan, kebahagian, cinta dan kasih. Aku ingin selalu dirindui meski hanya jarak beberapa meter berpisah. Aku ingin diselimuti ketika tidur, dan aku ingin selalu melihat senyuum indah setiap hari. 

Tapi, setiap kali aku bermimpi dalam kelemahanku. AKU SELALU KALAH! Mereka memukulku, menyuruhku tak membaca ayat kursi seperti yang selalu kulantunkan. Aku lelah! Lelah! Lelah! Dalam kelelahan, seolah malaikat maut ada bersamaku tanpa berkutik. Hanya memperhatikanku, menunggu kapan waktuku benar-benar berakhir. Darahku pun setiap hari enggan bertambah, hanya 70/50 mmhg, bahkan kadang-kadang 60/40 mmhg. Tubuh ini terasa berat, panas, aku antara di alam ini dan di alam lain. Dan Alhamdulillah, akalku tak pernah hilang. Ketika hendak hilang, kulawan dengan keras, kubacakan Al-Quran seperti yang sering kulakukan tiap malam untuk melawan musuh Allah yang kini amat nyata bagiku. 

Kadang aku bercermin dengan wajah sepucat kapas. Tanpa senyum, kulihat wajahku seolah tersenyum. Manis, lembut dan kemayu. Menurutku, aku bahkan lebih cantik saat ini ketimbang dulu. Guru mursyidku berkata, "Wajah adalah cerminan hati. Sedangkan lisan adalah terjemahan hati." Meskipun pucat, kulihat wajahku jauh lebih manis dan cantik dari biasanya. Meski tidak tersenyum, wajahku selalu tersenyum dengan sendirinya. Itulah kondisi hatiku saat ini. 

Setiap malam, aku tidur dalam pelukan bunda. Beliau menangis di kepalaku sambil membacakan ayat-ayat yang mulia. Tasbih yang selalu bersamaku pun ikut memainkan perannya. Aku tak tahu apa yang akan terjadi ke depan, tapi semoga aku masih bisa merekam jejak perjalananku di sini. Dan ini, bukanlah akhir perjalananku. 

Admin
Seorang sarjana salah jurusan, penggemar Naruto, hobi membaca komik, nonton Drakor dan Menulis Puisi, Cerpen dan Novel. Pencinta alam dan penggemar Edelweis.

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool