Assalamu'alaikum.... ^_^ Jika Ini Akhirku (Catatan W. Atropurpurea 2)

Jika Ini Akhirku (Catatan W. Atropurpurea 2)

Jika Ini Akhirku (Catatan W. Atropurpurea 2)

Masih dan masih. Seminggu lebih hampir berlalu, nyawaku belum lepas tapi aku seolah berada di dua alam. Segala hal gaib nyaris dapat kurasakan. Setiap saat, aku hampir-hampir lenyap, terkulai, namun akalku tak pernah hilang. Kurasakan energi mengalir di ragaku, kurasakan berbagai hawa merasukiku, membuatku terasa berat dan lemah, namun akalku tetap milikku.

Entah berapa pengobat sudah kudatangi, namun belum ada kesembuhan secara pasti. Nenekku menceritakan sebuah kisah. "Dulu, ada seorang murid perempuan ikut kaluet di sebuah pesantren. Suatu ketika, ketika ia sudah menyelesaikannya, ia pergi ke sebuah tempat yang agak jauh dari pesantren. Kala itu, datangnya laki-laki yang mengganggunya, perempuan itu pun sontak meminta bantuan pada gurunya. Gurunya yang entah ada dimana, yang amat berjarak dengannya, melempar sendal ke arah perempuan itu. Sendal itu akhirnya menggebuki para lelaki jahat tadi hingga lari terbirit-birit." Nenek melanjutkan, "Kamu pun harus begitu. Ingat untuk selalu Rabitah gurumu. Mintalah kepada Allah dengan afuwah gurumu, agar disembuhkan sakitmu." Aku dengan wajah datar hanya mengangguk saja.

Anehnya, setiap aku Rabitah Guruku, Abu Safwan, kubayangkan dengan amat khusyuk, seolah ada energi yang mengalir ke dalam tubuhku. Tubuhku seolah menjadi wadah yang gampang dimasuki dan keluar oleh energi-energi gaib yang tidak aku mengerti. Bahkan akhir-akhir ini wajahku nampak teduh. Namun, terkadang aku diganggu oleh makhluk-makhluk jahat hingga tak bisa tidur malam. Setiap shalat, semua gerakan terkadang dilakukan sendiri oleh tubuhku. Ia bergerak dengan sendirinya (meskipun dapat kukendalikan). Ketikan imam membaca salam, wajahku langsung berpaling sendiri. Begitu pula ketika aku berzikir (aku jarang tidak khusyuk), seketika seolah ada energi gaib yang mengisi tubuhku, membuatku berada di antara dua dunia.

Akhir-akhir ini, kurasakan setiap saat seolah bumi menarikku. Seolah gravitasi bumi terlalu kuat bagiku, dan aku seperti selembar daun kering yang rapuh serta batu yang berat. Wajahku memucat, namun lagi-lagi aku merasa aku cukup cantik dengan wajah ini. Ini perasaan aneh, tapi seorang teman berkomentar kemarin, "Katanya sakit, tapi kok makin cantik?" Aku tersenyum lembut sambil membalas, "Entah. Aku rasa juga begitu, hehe...."

Dalam kerapuhan tubuh (tapi tidak hatiku), aku merasakan berbagai hal. Cara pandangku terhadap dunia entah kenapa telah berbeda. Angin yang berhembus, hujan yang turun, napas yang berdesir bahkan ayam yang saling bersahut kumaknai dengan berbeda. Semua yang kulihat, kurasa dan kudengar kunikmati dengan senyum simpul. Senyum syukur. Bahwa pada hari ini, ternyata aku masih berkesempatan melihat, mendengar dan merasa semua itu. Seolah-olah, esok aku akan pergi, dan semua itu ingin kurasakan dengan lebih berarti.

Aku menulis ini bukan untuk siapapun, tapi hanya sebagai catatanku saja. Jadi, jika ada yang secara kebetulan membaca mohon tak perlu terlalu dimaknai, cukup baca santai seperti air mengalir. Dimana abjad berakhir di ujung kalimat, di situlah tulisan selesai dan tidak perlu menghayati usai itu.

Jumat, 06 Oktober 2017, aku baru selesai mengajar. Tubuhku terasa berat, lemah dan seolah penuh dengan energi. Aku duduk di kamar dengan perasaan berada diantara dua dunia. Ada tulisan ayat kursi yang tertulis dengan tinta emas tertempel di dinding kamarku. Wajahku tertengadah dengan sendirinya ke tulisan itu cukup lama. Aku memperhatikan tulisan Allah. Hampir satu jam aku memperhatikan itu entah kenapa, tubuhku melakukan itu dengan sendirinya. Tiba-tiba, kurasakan ada udara di mulutku yang mendorong dua bibirku yang rapat untuk terbuka, usai itu langsung tersenyum dengan sendirinya. Bibirku tersenyum sendiri melihat tulisan itu sekitar lima belas menit.

Lagi, lagi.... aku menulis ini hanya untuk merekam jejak hidupku bukan untuk lain-lain. Aku harap, masih ada tulisan berikutnya setelah ini.
Admin
Seorang sarjana salah jurusan, penggemar Naruto, hobi membaca komik, nonton Drakor dan Menulis Puisi, Cerpen dan Novel. Pencinta alam dan penggemar Edelweis.

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool