Assalamu'alaikum.... ^_^ Sop Injeksi Intravena Melalui Selang Infus

Sop Injeksi Intravena Melalui Selang Infus

 Sop Injeksi Intravena Melalui Selang Infus
 Sop Injeksi Intravena Melalui Selang Infus
 Sop Injeksi Intravena Melalui Selang Infus
DEFINISI PEMASANGAN INFUS

Pemasangan infus merupakan sebuah teknik yang digunakan untuk memungsi vena secara transcutan dengan menggunakan stilet tajam yang kaku dilakukan dengan teknik steril seperti angeocateter atau dengan jarum yang disambungkan dengan spuit (Eni K, 2006). Pemasangan infus adalah salah satu cara atau bagian dari pengobatan untuk memasukkan obat atau vitamin ke dalam tubuh pasien (Darmawan, 2008).

 Sedangkan ifus adalah memasukkan cairan dalam jumlah tertentu melalui vena penderita secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu (Azwar, 2008). Sementara itu menurut Lukman (2007), pemasangan infus intravena adalah memasukkan jarum atau kanula ke dalam vena (pembuluh balik) untuk dilewati cairan infus/pengobatan, dengan tujuan agar sejumlah cairan atau obat dapat masuk ke dalam tubuh melalui vena dalam jangka waktu tertentu. Tindakan ini sering merupakan tindakan life saving seperti pada kehilangan cairan yang banyak, dehidrasi dan syok, karena itu keberhasilan terapi dan cara pemberian yang aman diperlukan pengetahuan dasar tentang keseimbangan cairan dan elektrolit serta asam basa.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pemasangan infus adalah sebuah teknik memasukkan jarum atau kanula kedalam vena untuk memasukkan cairan infus kedalam tubuh.

TUJUAN PEMASANGAN INFUS

Tujuan utama terapi intravena adalah mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak dan kalori yang tidak dapat dipertahankan melalui oral, mengoreksi dan mencegah gangguan cairan dan elektrolit, memperbaiki keseimbangan asam basa, memberikan tranfusi darah, menyediakan medium untuk pemberian obat intravena, dan membantu pemberian nutrisi parental (Hidayat, 2008).

 KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEMSANGAN INFUS

1). Keuntungan

Keuntungan pemasangan infus intravena antara lain: 
  • Efek terapeutik segera dapat tercapai karena penghantaran obat ke tempat target berlangsung cepat, absorbs total memungkinkan dosis obat lebih tepat dan terapi lebih dapat diandalkan, 
  • kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek terapeutik data dipertahankan maupun dimodifikasi, 
  • rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu jika diberikan intramuscular atau subkutan dapat dihindari sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinalis.
2). Kerugian

Kerugian pemasangan infus intravena adalah: 
  • Tidak bisa dilakukan “drug recall”  dan mengubah aksi obat tersebut sehingga resiko toksisitas dan sensitivitas tinggi, 
  • Kontrol pemberian yang tidak baik bisa menyebabkan “speed shock” dan komplikasi tambahan dapat timbul, yaitu: konmtaminasi mikroba melalui titik akses ke sirkulasi dalam periode tertentu, iritasi vascular, misalnya flebitis kimia, dan inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan.
LOKASI PEMSANGAN INFUS

 Sop Injeksi Intravena Melalui Selang Infus
Menurut Perry dan Potter (2005), tempat atau lokasi vena perifer yang sering digunakan pada pemasangan infus adalah vena supervisial atau perifer kutan terletak di dalam fasia subcutan dan merupakan akses paling mudah untuk terapi intaravena.  

Daerah tempat infus yang memungkinkan adalah permukaan dorsal tangan (Vena supervisial dorsalis, vena basalika, vena sefalika), lengan bagian dalam (vena basalika, vena sefalika, vena kubital median, vena median lengan bawah, dan vena radialis), permukaan dorsal (Vena safena magna, ramus dorsalis).

Menurut Dougherty, dkk, (2010), Pemulihan lokasi pemasangan terapi intravena mempertimbangkan beberapa factor, yaitu:
  1. Umur pasien: misalnya pada anak kecil, pemilihan sisi adalah sangat penting dan mempengaruhi beberapa lama intravena terakhir
  2. Prosedur yang diantisipasi: misalnya jika pasien harus menerima jenis terapi tertentu atau mengalami beberapa prosedur seperti pemedahan, pilih sisi yang tidak terpengaruh oleh apapun
  3. Aktivitas pasien: misalnya gelisah, bergerak, tak bergerak, perubahan tingkat kesadaran
  4. Jenis intravena: jenis larutan dan obat-obatan yang akan diberikan sering memaksa tempat-tempat yang optimum (misalnya hiperalimenasi adalah sangat mengiritasi bena-vena perifer
  5. Durasi terapi intravena: terapi jangka panjang memerlukan pengukuran untuk memelihara vena; pilih bena yang akurat dan baik, rotasi sisi dengan hati-hati, rotasi sisi pungsi dari distal ke proksimal (misalnya mulai di tangan dan pindah ke lengan)
  6. Keetersediaan vena perifer bila jangan sedikit vena yang ada, pemilihan sisi dan rotasi yang berhati-hati menjadi sangat penting; jika sedikit vena pengganti
  7. Terapi intravena sebelumnya: flebitis sebelumnya membuat vena menjadi tidak baik untuk digunakan, kemotrapi sering membuat vena menjadi buruk (misalnya mudah pecah atau sklerosis)
  8. Pembedahan sebelumnya: jangan gunakan ekstremitas yang terkena pada pasien dengan kelenjar limfe yang telah diangkat (misalnya pasien mastektomi) tanpa izin dari dokter
  9. Sakit sebelumnya: jangan gunakan ekstremitas yang sakit pada pasien dengan stroke
  10. Kesukaan pasien: jika mungkin, pertimbangkan kesukaan alami pasien untuk sebelah kiri atau kanan dan juga sisi.
CAIRAN INFUS

Berdasarkan osmolalitasnya, menurut Perry dan Potter (2005), cairan intravena (infus) dibagi menjadi 3, yaitu:

a). Cairan bersifat isotonis

Osmolaritas (tingkat kepekatan) cairan mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Meiliki resiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongresif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).

b). Cairan bersifat hipotonis

Osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (kosentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialysis) dalam terapi deuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetic. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakarnial (dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.

c). Cairan bersifat hipertonis

Osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urine, dan mengurangi edema bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5% + Ranger- Lactate.

PENGERTIAN PEMBERIAN OBAT SECARA INTRAVENA

Pemberian obat dengan cara memasukkan obat ke dalam pembuluh darah vena dengan menggunakan spuit. Sedangkan pembuluh darah vena adalah pembuluh darah yang menghantarkan darah ke jantung. Dapat dilakukan pada ( Indikasi ) : 
1. Pasien yang membutuhkan, agar obat yang di berikan dapat di berikan dengan cepat. 
2. Pasien yang terus menerus muntah-muntah 
3. Pasien yang tidak di perkenankan memasukkan apapun juga lewat mulutnya. 
4. Typoid 
5. Sesak nafas 
6. Epilepsi atau kejang-kejang Tujuan injeksi : 
  • untuk memperoleh reaksi obat  yang cepat diabsorpsi dari pada dengan injeksi perenteral lain 
  • untuk menghindari terjadinya kerusakan jaringan 
  • untuk memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar 
LOKASI INJEKSI INTRAVENA

Memberikan obat melaui vena secara langsung, di antaranya : 
  • vena medianan cubitus/cephalika (daerah lengan)
  • vena saphenous (tungkai )
  • vena jugularis (leher) vena frontalis/temporalis di daerah frontalis dan temporal dari kepala. 
BAHAYA PEMBERIAN OBAT SECARA INJEKSI
  • Pasien alergi terhadap obat (misalnya mengigil, urticaria, shock, collaps dan lain-lain)
  • Pada bekas suntikan dapat terjadi apses, nekrose atau hematoma 
  • Dapat menimbulkan kelumpuhan 

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMBERIAN INJEKSI INTRA VENA LEWAT SALURAN INFUS 

Pengertian 
  • Memasukan cairan atau obat langsung ke dalam pembuluh darah vena dengan melalui saluran infus. 
Tujuan 
  • Sebagai tindakan pengobatan 
Prosedur 

1. Pra Tahap Interaksi 
a).  Mengecek status pasien dan mengkaji kebutuhan pasien terkait pemberian obat 
b). Menyiapkan alat
 Ø  Baki berisi  : 
  • Obat yang akan diberikan 
  • Spuit atau disposibel spuit steril 
  • Desinfektan : Alcohol 70% dan Povidon iodine 10% 
  • Kapas alcohol atau kassa swap 
  • Lidi kapas dan kassa steril pada tempatnya 
  • Pengalas 
  • Bengkok dan galiot (kom kecil) 
  • Jam tangan yang ada detikan 
Ø  Alat pelindung diri : sarung tangan 
Ø  Alat tulis, form dokumentasi atau buku catatan injeksi 

c).  Menjaga lingkungan : 
  • Atur pencahayaan
  • jaga privacy klien
  • tutup pintu dan jendela/horden
 Tahap orientasi 
  1. Memberikan salam 
  2. Mengklarifikasi kontrak atau pemberian obat 
  3. Menjelaskan tujuan dan prosedur pemberian obat 
  4. Memberi kesempatan klien untuk bertanya 
  5. Mendekatkan alat ke klien 
Tahap Kerja 
  1. Perawat mencuci tangan 
  2. Memakai sarung tangan bersih 
  3. Menyiapkan obat sesuai dengan prinsip 6 benar.
  4. Mengatur posisi pasien untk penyuntikan 
  5. Memasang perlak dan pengalasnya pada area dibawah yang terpasang infus 
  6. Mengecek kelancaran tetesan infuse sebelum obat dimasukkan 
  7. Memastikan tidak ada udara pada suit disposibl yang berisi obat
  8. Mematikan atau mengklame infuse
  9. Melakukan disinfektan pada area karet saluran infuse set pada saluran infuse 
  10. Menusukkan jarum ke bagian karet saluran infuse dengan hati-hati degan kemiringan jarum 15-45 derajat 
  11. Melakukan aspirasi atau menghisap spuit disposable untuk memastikan bahwa obat masuk ke saluran vena dengan baik. Jika saat aspirasi terlihat darah keluar ke selang infuse maka obat siap untuk dimasukkan
  12. Memasukkan obat secara perlahan dengan mendorong pegangan disposable spuit sampai obat habis 
  13. Mencabut jarum dari bagian karet saluran infuse dengan mendidih kapas pada lokasi tusukan jarum tadi 
  14. Membuka klem cairan infuse dan mengobservasi kelancaran tetesan aliran infuse 
  15. Membuang disposable spuit ke bengkok 
  16. Menghitung tetesan infuse sesuai dengan ketentuan program pemberian cairan 
  17. Membereskan pasien 
  18. Membereskan alat-alat 
  19. Melepas sarung tangan 
  20. Mencuci tangan 
Tahap Terminasi 
  1. Mengevaluasi respon klien 
  2. Menyimpulkan hasil kegiatan 
  3. Memberi pesan (menjaga posisi dan kelancaran) 
  4. Melakukan kontrak selanjutnya (waktu, tempat, topik/kegiatan) 
Pendokumentasian 
  1. Nama pasien 
  2. Jenis obat 
  3. Jumlah dosis 
  4. Rute pemberian obat 
  5. Respon pasien 
  6. Heri/tanggal/jam pemasangan 
  7. Tanda tangan perawat 
Admin
Seorang sarjana salah jurusan, penggemar Naruto, hobi membaca komik, nonton Drakor dan Menulis Puisi, Cerpen dan Novel. Pencinta alam dan penggemar Edelweis.

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool