Assalamu'alaikum.... ^_^ Materi Atresia Ani Lengkap

Materi Atresia Ani Lengkap

Materi Atresia Ani Lengkap
DEFINISI ATRESIA ANI

Materi Atresia Ani Lengkap
Atresia Ani 
Atresia ani atau anus imperforata disebut sebagai malformasi anorektal, adalah suatu kelainan kongenital tanpa anus atau dengan anus tidak sempurna, termasuk Agenesis ani, Agenesis rekti dan Atresia rekti. Insiden 1 : 5000 kelahiran yang dapat muncul sebagai penyakit tersering yang merupakan syndrom VACTRERL ( Vertebra, Anal, Cardial, Esofageal, Renal, Limb). 

Dalam asuhan neonatus tidak sedikit dijumpai adanya kelainan cacat kongenital pada anus dimana anus tidak mempunyai lubang untuk mengeluarkan feces karena terjadi gangguan pemisahan kloaka yang terjadi saat kehamilan. Walaupun kelainan lubang anus akan mudah terbukti saat lahir, tetapi kelainan bisa terlewatkan bila tidak ada pemeriksaan yang cermat atau pemeriksaan perineum.

Kelainan kongenital pada anus ini biasanya disebabkan karena putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur, kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu /3 bulan, dan adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.

TINJAUAN ANATOMI ATRESIA ANI

Bagian atas bangunan anal ini dikenal sebagai m levator dan bagian terbawah adalah m sfingter externus. Pembagian secara lebih rinci, dari struktur cerobong ini adalah: m. ischiococcygeus, illeococcygeus, pubococcygeus, puborectalis, deep external spincter externus dan superficial external sfingter. M sfingter externus merupakan serabut otot para sagital yang saling bertemu didepan dan dibelakang anus. Bagian diantara m. levator dan sfingter externus disebut muscle complex atau vertikal fiber

Kanal anal dan rectum mendapat vaskularisasi dari arteria hemoroidalis superior, a hemoroidalis media dan a hemoroidalis inferior.  Arteri hemoroidalis superior merupakan akhir dari arteria mesenterika inferior dan melalui dinding posterior dari rectum dan mensuplai dinding posterior, juga ke kanan dan ke kiri dinding pada bagian tengah rectum, kemudian turun ke pectinate line. Arteria hemoroidalis media merupakan cabang dari arteria illiaca interna.

Arteria hemoroidalis inferior cabang dari arteri pudenda interna, ia berjalan di medial dan vertical untuk mensuplai kanalis anal di bagian distal dari pectinate line. Inervasi para simpatis berasal dari nervus sacralis III, V yang kemudian membentuk N Epiganti, memberikan cabang ke rectum dan berhubungan dengan pleksus Auerbach.

Saraf ini berfungsi sebagai motor dinding usus dan inhibitor sfingter serta sensor distensi rectum. Persarafan simpatis berasal dari ganglion Lumbalis II, III, V dan pleksus para aurticus, kemudian membentuk pleksus hipogastricus kemudian turun sebagai  N pre sacralis. Saraf ini berfungsi sebagai inhibitor dinding usus dan motor spingter internus. Inervasi somatic dari m levator ani dan muscle complex berasal dari radix anterior N sacralis III, V.

EMBRIOLOGI ATRESIA ANI

Secara embriologis, saluran pencernaan berasal dari Foregut, Midgut dan Hindgut. Forgut akan membentuk faring, sistem pernafasan bagian bawah, esofagus, lambung sebagian duodenum, hati dan sistem bilier serta pancreas.

Mid gut membentuk usus halus, sebagian duodenum, sekum, appendik, kolon ascenden sampai pertengahan kolon transversum. Hindgut meluas dari midgut hingga ke membrana kloaka, membrana ini tersusun dari endoderm kloaka, dan ectoderm dari protoderm / analpit.

Usus terbentuk mulai minggu keempat disebut sebagai primitif gut. Kegagalan perkembangan yang lengkap dari septum urorektalis menghasilkan anomali letak tinggi atau supra levator. Sedangkan anomali letak rendah atau infra levator berasal dari defek perkembangan proktoderm dan lipatan genital.

Pada anomali letak tinggi, otot levator ani perkembangannya tidak normal. Sedangkan otot sfingter eksternus dan internus dapat tidak ada atau rudimenter.

ETIOLOGI ATRESIA ANI

Penyebab atresia ani belum diketahui secara pasti tetap ini merupakan penyakit anomaly kongenital (Bets. Ed tahun 2002)
Akan tetapi atresia juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
  1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur.
  2. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan.
  3. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.

PATOFISIOLOGI ATRESIA ANI
  1. Kelainan ini terjadi karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara komplit karena gangguan pertumbuhan, fusi atau pembentukan anus dari tonjolan embrionik
  2. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur, sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur
  3. Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani, karena ada kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau tiga bulan
  4. Berkaitan dengan sindrom dow
  5. Atresia ani adalah suatu kelainan bawaan

MANIFESTASI KLINIS ATRESIA ANI
  1. Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran.
  2. Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rectal pada bayi.
  3. Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang salah letaknya.
  4. Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tidak ada fistula).
  5. Bayi muntah-muntah pada umur 24-48 jam.
  6. Pada pemeriksaan rectal touché terdapat adanya membran anal.
  7. Perut kembung. (Betz. Ed 7. 2002)

Untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru lahir harus dilakukan colok anus dengan menggunakan termometer yang dimasukkan sampai sepanjang 2 cm ke dalam anus. Atau dapat juga dengan jari kelingking yang memakai sarung tangan. Jika terdapat kelainan, maka termometer atau jari tidak dapat masuk. Bila anus terlihat normal dan penyumbatan terdapat lebih tinggi dari perineum. Gejala akan timbul dalam 24-48 jam setelah lahir berupa perut kembung, muntah berwarna hijau.

DIAGNOSIS ATRESIA ANI
  1. Bayi cepat kembung antara 4-8 jam setelah lahir
  2. Tidak ditemukan anus, kemungkinan ada fistula
  3. Bila ada fistula pada perineum(mekoneum +) kemungkinan letak rendah

Untuk menegakkan diagnosis Atresia Ani adalah dengan anamnesis dan pemeriksaan perineum yang teliti .

KOMPLIKASI ATRESIA ANI

Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita atresia ani antara lain :
a. Asidosis hiperkioremia.
b. Infeksi saluran kemih yang bisa berkepanjangan.
c. Kerusakan uretra (akibat prosedur bedah).
d. Komplikasi jangka panjang.
  • Eversi mukosa anal
  • Stenosis (akibat kontriksi jaringan perut dianastomosis)

e. Masalah atau kelambatan yang berhubungan dengan toilet training.
f. Inkontinensia (akibat stenosis awal atau impaksi)
g. Prolaps mukosa anorektal.
h. Fistula kambuan (karena ketegangan diare pembedahan dan infeksi)

KLASIFIKASI ATRESIA ANI

Klasifikasi atresia ani :
  1. Anal stenosis adalah terjadinya penyempitan daerah anus sehingga feses tidak dapat keluar.
  2. Membranosus atresia adalah terdapat membran pada anus.
  3. Anal agenesis adalah memiliki anus tetapi ada daging diantara rectum dengan anus.
  4. Rectal atresia adalah tidak memiliki rectum 

PENATALAKSANAAN ATRESIA ANI
  • Pembedahan

Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan keparahan kelainan. Semakin tinggi gangguan, semakin rumit prosedur pengobatannya. Untuk kelainan dilakukan kolostomi beberapa lahir, kemudian anoplasti perineal yaitu dibuat anus permanen (prosedur penarikan perineum abnormal) dilakukan pada bayi berusia 12 bulan. Pembedahan ini dilakukan pada usia 12 bulan dimaksudkan untuk memberi waktu pada pelvis untuk membesar dan pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga memungkinkan bayi untuk menambah berat badan dan bertambah baik status nutrisnya. Gangguan ringan diatas dengan menarik kantong rectal melalui afingter sampai lubang pada kulit anal fistula, bila ada harus tutup kelainan membranosa hanya memerlukan tindakan pembedahan yang minimal membran tersebut dilubangi degan hemostratau skapel
  • Pengobatan

  1. Aksisi membran anal (membuat anus buatan)
  2. Fiktusi yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah 3 bulan dilakukan korksi sekaligus (pembuat anus permanen)

  • Keperawatan

Kepada orang tua perlu diberitahukan mengenai kelainan pada anaknya dan keadaan tersebut dapat diperbaiki dengan jalan operasi. Operasi akan dilakukan 2 tahap yaitu tahap pertama hanya dibuatkan anus buatan dan setelah umur 3 bulan dilakukan operasi tahapan ke 2, selain itu perlu diberitahukan perawatan anus buatan dalam menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi serta memperhatikan kesehatan bayi

PEMERIKSAAN PENUNJANG ATRESIA ANI

  1. Pemeriksaan rectal digital dan visual adalah pemeriksaan diagnostik yang umum dilakukan pada gangguan ini.
  2. Jika ada fistula, urin dapat diperiksa untuk memeriksa adanya sel-sel epitel mekonium.
  3. Pemeriksaan sinyal X lateral infeksi (teknik wangensteen-rice) dapat menunjukkan adanya kumpulan udara dalam ujung rectum yang buntu pada mekonium yang mencegah udara sampai keujung kantong rectal.
  4. Ultrasound dapat digunakan untuk menentukan letak rectal kantong.
  5. Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rectal dengan menusukan jarum tersebut sampai melakukan aspirasi, jika mekonium tidak keluar pada saat jarum sudah masuk 1,5 cm Derek tersebut dianggap defek tingkat tinggi.
  6. Pemeriksaan radiologis dapat ditemukan : 1). Udara dalam usus berhenti tiba-tiba yang menandakan obstruksi di daerah tersebut 2). Tidak ada bayangan udara dalam rongga pelvis pada bagian baru lahir dan gambaran ini harus dipikirkan kemungkinan atresia reftil/anus impoefartus, pada bayi dengan anus impoefartus. Udara berhenti tiba-tiba di daerah sigmoid, kolon/rectum 3). Dibuat foto anterpisterior (AP) dan lateral. Bayi diangkat dengan kepala dibawah dan kaki diatas pada anus benda bang radio-opak, sehingga pada foto daerah antara benda radio-opak dengan dengan bayangan udara tertinggi dapat diukur.


SOAP KELAINAN ATRESIA ANI

PENDOKUMENTASIAN  ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI “S” DENGAN ATRESIA ANI DI RSU SAYANG IBU DI KAMPUNG PALLA TANGGAL 17 OKTOBER 2012

Tanggal Lahir              : 17 oktober 2016 jam 08.00 wita
Tanggal Pengkajian     : 17oktober 2016 jam 08.30 wita

Data Subyektif (O)
1.  Identitas bayi
Nama                           :  By “M”
Umur                           :   0 hari
Jenis kelamin               :  laki-laki
Tanggal lahir               :  17 oktober 2016
Anak ke                       :  I

2. Identitas orang tua
Nama                           : Ny “X” / Tn “X”
Umur                           : 28thn / 35thn
Nikah /lamanya           : 1x/1x/ 4thn
Suku                            : tidung/tidung
Agama                         : islam/islam                
Pendidikan                  : Sma/Sma
Pekerjaan                     : Irt/ petani
Alamat                        : jalan kesasar no 1250

3.      GIP0A0
4.      Bayi lahir 17 oktober 2016 jam 08.00 wiB

Data Obyektif (O)
1.      Bayi lahir spontan segera menagis bergerak aktif seluruh tubuh kemerahan A/S : 8/10
2.      BB :3000 gr, PB : 45 cm, Jenis kelamin : laki-laki
3.      TTV :
N         : 130x/i
S          : /axila
P           : 45x/i

4.  Pemeriksaan fisik
  • Kepala 

Penyebaran  rambut rata, tidak ada kelainan bentuk kepala seperti/ hidrosephalus, mikrosephalus, sephal, warna rambut hitam, pada ubun-ubun besar terdapat 4 sutura diantaranya S. Frontalis, S. Sagitalis, 2 S. Koronalis. Pada ubun-ubun kecil terdapat 3 sutura diantaranya S. Lamboideus kanan & kiri dan S. Sagitalis, tidak ada molase/ penyimpangan kepala,
  1. Muka bentuk muka bulat, tekstur kulit halus,pada Mata  kedudukan mata simetris, sklera putih, tidak ada perdarahan pada konjungtiva, refleks cahaya (+)
  2. Telinga kedudukan antara telinga kanan dan telingan kiri simetris dan sejajar, daun telinga terbentuk sempurna, telinga bersih, tidak ada serumen, refleks moro (+)
  3. Hidung septumnasi lurus, hidung bersih, lubang hidung kanan dan kiri simetris, pernapasan melalui hidun
  4. Mulut dan gigi mulut bersih, bibir atas dan bibir bawah simetris, mukosa lembab, tidak ada kelainan pada bibir seperti labioschisis dan labiopalatoschisis (pada palatum), lidah bersih
  5. refleks rooting (+)

  • Leher

Tidak ada pembesaran vena jugularis, teraba denyut nadi karotis, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, refleks tonik leher (+)
  • Dada

bentuk dada menonjol, kedudukan puting susu simetris, tampak denyut jantung, RR 45x/menit tidak ada benjolan pada area dada
terdengar BJ1 Lup BJ2 Dup
  • Abdomen

bentuk datar, tidak ada kelainan pada dinding perut seperti omfalokel, hernia diafragmatika. Tali pusat berwaran putih tidak ada tanda-tanda infeksi
  • Genetalia

terdapat lubang uretra, terdapat dua scrotum tidak ada lubang anus
  • Ekstremitas atas

Tidak ada kelainan pada jumlah jari pada tangan kanan
  • Ekstremitas bawah

Antara kaki kanan dan kiri simetris, tidak ada kelainan kongenital, tidak ada kelainan jumlah jari Antara kaki kanan dan kaki kiri seperti refleks babinski (+)
  • Punggung

Tidak ada tanda lahir, tidak terdapat spina bifida
5. Pemeriksaan refleks
  •  Refleks gallans     : (+)
  • Refleks morrow   : (+)
  • Refleks rooting    : (+)
  • Refleks sucking   : (+)
  • Refleks tonik       : (+)
  • Refleks graps       : (+)
  • Refleks gallans    : (+)
  • Refleks babinski : (+)

6. Pengukuran antropometri
a.  Cirkumferensia :
  •  C. Fronto – occipitalis : 34 cm
  •  C. Mento – occipitalis : 35 cm
  •  C. Suboksipito- bregma : 32 cm

b. Ukuran diameter
  • D. Occipito – Frontalis : 12 cm
  • D. Mento – occipito : 13,5 cm
  • D. Suboccipito – bregma: 9,5 cm
  • D. Biparietalis : 9,25 cm
  • D. Bitemporalis : 8 cm

c. LIDA : 28 cm
d. LIPA : 29  cm

7.    Pemeriksaan penunjang
Belum dilakukan pemeriksaan penunjang
  • Assesment (A)

BCB/SMK dengan atresia ani
  • Planning (P)

  1. Membina hubungan saling percaya dengan keluarga klien [keluarga pecaya kepada petugas kesehatan untuk menagani permasalahan bayinya]
  2. Menjelaskan kepada keluarga tentang kondisi anaknya [keluarga mengerti dan paham atas penjelasan yang diberikan]
  3. Memberikan dukungan emosional dan keyakinan pada ibu [ibu dan keluarga bersabar atas kondisi yang dialami anaknya]
  4. Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan kepada keluarga pasien [“pasien mengerti dan paham atas kondisi yang diberikan]
  5. Melakukan pemeriksaan lubang anus [“pada anus bayi tidak terdapat lubang”]
  6. Menjaga bayi agar tetap hangat dengan Keringkan bayi dengan seksama, Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat, Selimuti bagian kepala bayi [“bayi terbungkus dengan kain kering”]
  7. Melakukan persiapan untuk merujukan dan rujuk ke rumah sakit yang menyediakan pelayanan pengoprasian atresia ani [“Bayi akan dirujuk jam 11.00 wib]”

KLASIFIKASI ATRESIA ANI

MELBOURNE membagi berdasarkan garis pubocoxigeus dan garis yang melewati ischii kelainan disebut :
  • Letak tinggi adalah rectum berakir diatas m.levator ani (m.pubo coxigeus)
  • Letak intermediet adalah akhiran rectum terletak di m.levator ani
  • Letak rendah adalah akhiran rectum berakhir bawah m.levator ani
Admin
Seorang sarjana salah jurusan, penggemar Naruto, hobi membaca komik, nonton Drakor dan Menulis Puisi, Cerpen dan Novel. Pencinta alam dan penggemar Edelweis.

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool