Assalamu'alaikum.... ^_^ Makalah Retensio Plasenta Lengkap

Makalah Retensio Plasenta Lengkap

Makalah Retensio Plasenta Lengkap
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Kematian maternal adalah kematian wanita saat hamil, melahirkan atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan,tingkat kematian maternal (maternal mortality rate) atau angka kematian ibu (AKI) sangat tinggi. Pemerintah telah mencanangkan upaya keselamatan ibu (safe mother hood initiative) untuk mengamankan pera ibu hamil , melahirkan dan sesudah nya menuju kekeluarga sehat dan sejahtera.

Berdasarkan penyebab perdarahan, salah satunya disebabkan oleh Retensio Plasenta dengan frekuensi (16-17%) dan penyebab yang lain yaitu Atonia Uteri dengan frekuensi (50-60%), laserasi jalan lahir dengan frekuensi (23-24%), pembekuan darah dengan frekuensi (0,5-0,8%).

Dalam Angka Kematian Ibu (AKI) dikenal istilah (3T) (Terlambat) dan 4T (Terlalu). Istilah 3T yaitu terlambat mengenali tanda bahaya dan memutuskan untuk mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan: terlambat dalam mencapai fasilitas kesehatan yang memadai;dan terlambat dalam menerima pelayanan kesehatan yang cukup memadai di setiap tingkatan.Sedangkan istilah 4T yaitu terlalu muda untuk menikah,terlalu sering atau terlalu banyak melahirkan,terlalu dekat jarak kehamilan dan terlalu tua untuk hamil.

Di Sumatera Utara angka kematian ibu lebih tinggi dibandingkan dengan angka rata-rata nasional. Sampai saat ini rata-rata angka kematian ibu di Sumatera Utara sebanyak 330 per 100.000 kelahiran,sedangkan rata-rata nasional adalah 307 per 100.000 kelahiran (Khairudin, 2009).

Sebagian besar penyebab kematian ibu secara langsung sebesar 90 %,juga diakibatkan oleh komplikasi yang terjadi saat persalinan dan segera setelah bersalin.Penyebab tersebut dikenal dengan Trias Klasik yaitu : perdarahan (285), eklamsi (24%), dan infeksi (11%) (Depkes, 2008).

Berdasarkan penyebab perdarahan, salah satunya di sebabkan oleh Retensio Plasenta dengan frekuensi (16-17%) dan penyebab yang lain yaitu Atonia Uteri dengan frekuensi (50-60%), laserasi jalan lahir dengan frekuensi (23-24%), pembekuan darah dengan frekuensi (0,5-0,8%) (Geocities,2006).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Retensio Plasenta

Makalah Retensio Plasenta LengkapRetensio Plasenta adalah belum lepasnya plasenta dengan melebihi waktu setengah jam. Keadaan ini dapat diikuti perdarahan yang banyak , artinya hanya sebagian plasenta yang telah lepas sehingga memerlukan tindakan plasenta manual dengan segera ( Manuaba, 2008). Selanjutnya menurut Kunsri (2007) Retensio plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam setelah persalinan bayi, dapat terjadi retensio plasenta berulang ( habitual retension ) oleh karena itu plasenta harus di keluarkan karna dapat menimbulkan bahaya perdarahan.

2.2. Klasifikasi Retensio Plasenta

Berdasarkan tempat implantasinya retensio plasenta dapat di klasifikasikan menjadi 5 bagian :
  1. Plasenta Adhesiva
    => Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta plasenta dan melekat pada desidua dan melekat pada desidua endometrium lebih dalam 
  2. Plasenta Akreta
    => Implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki lapisan miometrium yang menembus lebih dalam miometrium tetapi belum menembus serosa.
  3. Plasenta Inkreta
    => Implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai atau memasuki miometrium , dimana vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua sampai ke miometrium .
  4. Plasenta Perkreta
    => Implantasi jonjot khorion plsenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa di uterus, yang menembus serosa atau peritoneum dinding rahim 
  5. Plasenta Inkarserata
    => Tertahannya plasenta di dalam kavum uteri, disebabkan oleh kontraksi ostium uteri (Sarwono, 2005).

2.3. Faktor Penyebab Retensio Plasenta

Adapun faktor penyebab dari retensio plasenta adalah :
  1. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena tumbuh dan melekat lebih dalam .
  2. Plasenta sudah terlepas tetapi belum keluar karena atonia uteri dan akan meyebabkan perdarahan yang banyak atau adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim yang akan menghalangi plasenta keluar
  3. Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan tetapi bila sebagian plasenta sudah lepas akan terjadi perdarahan (Mochtar, 1998).

Apabila terjadi perdarahan post partum dan plasenta belum lahir, perlu di usahakan untuk melahirkan plasenta dengan segera . Jikalau plasenta sudah lahir, perlu dibedakan antara perdarahan akibat atonia uteri atau perdarahan karena perlukaan jalan lahir. Pada perdarahan karena atonia uterus membesar dan lembek pada palpasi, sedang pada perdarahan karena perlukaan jalan lahir uterus berkontraksi dengan baik (Wiknjosastro, 2005).

2.4. Patogenesis Retensio Plasenta

Retensio plasenta dan manajemennya (pengangkatan manual plasenta) dapat memberikan efek negatif pada kualitas kontak ibu dengan bayi yang dilahirkan maupun kesehatan post partumnya. Retensio plasenta, dapat juga mengurangi waktu yang dihabiskan untuk berdekatan, menyusui dan berkenalan dengan bayi barunya serta dalam jangka panjang bisa menyebabkan ibu anemis dan nyeri. Pada kasus berat dapat menyebabkan perdarahan akut, infeksi, perdarahan post partum sekunder, histerektomi, dan bahkan kematian maternal. Retensio plasenta terjadi pada 3% kelahiran pervaginam sedangkan 15% retensio plasenta adalah ibu yang pernah mengalami retensio plasenta (Chapman, 2006).

2.5. Tanda Gejala Retensio Plasenta

Tanda-tanda gejala yang selalu ada yaitu plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan segera, kontraksi uterus baik. Gejala yang kadang-kadang timbul :
  1. Tali Pusat putus akibat kontraksi berlebihan
  2. Inversio uteri akibat tarikan
  3. Perdarahan lanjutan.

Dijumpai pada kala tiga atau post partum dengan gejala yang nyeri yang hebat perdarahan yang banyak sampai syok. Apalagi bila plasenta masih melekat dan sebagian sudah ada yang terlepas dan dapat terjadi strangulasi dan nekrosis ( Geocities, 2006 ).

Diagnosis biasanya tidak sulit, terutama apabila timbul perdarahan banyak dalam waktu pendek, tetapi bila perdarahan sedikit dalam waktu lama. Tanpa disadari penderita telah kehilangan banyak darah sebelum ia tampak pucat. Nadi serta pernapasan menjadi lebah cepat dan tekanan darah menurun, jika perdarahan berlangsung terus menerus dapat menimbulkan syok. perdarahan yang banyak bisa juga meyebabkan syndrom Sheehan sebagai akibat nekrosis. gejala gejalanya adalah asthenia, hipotensi, anemia, turunnya berat badan sampai menimbulkan penurunan fungsi seksual, kehilangan rambut pubis dan ketiak (Sarwono, 2005).

2.6. Penanganan Retensio Plasenta 

Apabila plasenta belum lahir setengah jam setelah anak lahir , harus diusahakan untuk mengeluarkannya , dapat dicoba dulu dengan :

2.6.1. Manual Plasenta

Manual plasenta adalah prosedur pelepasan plasenta dari tempat implantasinya pada dinding uterus dan mengeluarkannya dari kavum uteri secara manual yaitu dengan melakukan tindakan invasi dan manipulasi tangan penolong persalinan yang dimasukkan langsung kedalam kavum uteri. Bila setelah 30 menit plasenta belum lepas sehingga belum dapat dilahirkan atau jika dalam waktu menunggu terjadi perdarahan yang banyak, plasenta sebaiknya dikeluarkan dengan segera.

Manual plasenta merupakan tindakan operasi kebidanan untuk melahirkan retensio plasenta. Teknik operasi manual plasenta tidaklah sukar, tetapi harus dipikirkan bagaimana persiapan agar tindakan tersebut dapat menyelamatkan jiwa penderita. (Manuaba, IBG)

2.6.1.1. Indikasi Manual Plasenta

Manual plasenta dilakukan karena indikasi retensio plasenta yang berkaitan dengan :
1. Plasenta belum lepas dari dinding uterus dikarenakan:
    Makalah retensio plasenta lengkap
  • Plasenta adhesive yaitu kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta.
  • Plasenta akreta yaitu implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan miometrium.
  • Plasenta inkreta, yaitu implantasi jonjot korion plaSenta hingga mencapai/memasuki miometrium. 
  • Plasenta perkreta, yaitu implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus. 
  • Plasenta inkarserata, yaitu tertahannya plasenta didalam kavum uteri yang disebabkan oleh konstriksi ostium uteri. 

2. Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan dan dapat terjadi perdarahan
3. Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan.
4. Retensio plasenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan
  • Darah penderita terlalu banyak hilang, 
  • Keseimbangan baru berbentuk bekuan darah, sehingga perdarahan tidak terjadi, 
  • Kemungkinan implantasi plasenta terlalu dalam.  

2.6.1.2. Patologis Manual Plasenta

Manual plasenta dapat segera dilakukan apabila : 
  • Terdapat riwayat perdarahan postpartum berulang. 
  • Terjadi perdarahan postpartum melebihi 400 cc 
  • Pada pertolongan persalinan dengan narkosa. 
  • Plasenta belum lahir setelah menunggu selama setengah jam. 
  • Tanda dan Gejala Manual Plasenta 

Tanda dan gejala manual plasenta antara lain : 
  • Adanya riwayat multiple fetus dan polihidramnion 
  • Plasenta tidak dapat lahir spontan setelah bayi lahir (lebih dari 30 menit) 
  • Timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan 
  • Plasenta tidak ditemukan didalam kanalis servikalis tetapi secara parsial atau lengkap menempel didalam uterus. 
  • Perdarahan yang lama lebih dari 400 cc setelah bayi lahir Setelah mengetahui tanda dan gejala manual plasenta dalam keadaan darurat dengan indikasi perdarahan lebih dari 400 cc jika masih terdapat kesempatan penderita untuk dapat dikirim ke puskesmas atau rumah sakit sehingga mendapat pertolongan yang adekuat. Dalam melakukan rujukan penderita dilakukan persiapan dengan memasang infus dan memberikan cairan serta dalam merujuk didampingi oleh tenaga kesehatan sehingga dapat memberikan pertolongan darurat. 

2.6.1.3. Komplikasi Tindakan Manual Plasenta 
Tindakan plasenta manual dapat menimbulkan komplikasi, terjadinya perforasi uterus misalnya : 
  • Terjadinya infeksi : terdapat sisa plasenta atau membrane dan bakteria terdorong ke dalam rongga rahim 
  • Terjadi perdarahan karena atonia uteri. 
  • Untuk memperkecil komplikasi dapat dilakukan tindakan profilaksis dengan memberikan uterotonika intravena dan intamuskular misalnya dengan : 
  • Memasang tamponade uterovaginal 
  • Memberikan antibiotika 
  • Memasang infus dan persiapan transfusi darah 
  • Prosedur Manual Plasenta
  • Pasang set dan cairan infus RL/NaCl 
  • Jelaskan pada ibu prosedur dan tujuan tindakan 
  • Lakukan anestesia verbal atau analgesia per rektal 
  • Siapkan dan jalankan prosedur pencegahan infeksi 
  • Pastikan kandung kemih kosong karena kandung kemih yang penuh dapat menggeser letak uterus. 
  • Lakukan bila plasenta tidak lahir setelah 30 menit bayi lahir dan telah disertai manajeman aktif kala III. 
  • Dan atau tidak lengkap keluarnya plasenta dan perdarahan berlanjut. 
  • Lakukan persetujuan tindakan medis (informed consent). 
  • Berikan sedatif diazepam 10 mg IM/IV. 
  • Antibiotika dosis tunggal (profilaksis): Ampisilin 2 g IV + metronidazol 500 mg IV, ATAU Cefazolin 1 g IV + metronidazol 500 mg IV 
  • Cuci tangan dan pasang sarung tangan panjang steril. 
  • Jepit tali pusat dengan klem dan tegangkan sejajar dengan lantai. 
  • Masukkan tangan dalam posisi obstetri dengan menelusuri bagian bawah tali pusat. 
  • Tangan sebelah dalam menyusuri tali pusat hingga masuk ke dalam kavum uteri, sedangkan tangan di luar menahan fundus uteri, untuk mencegah inversio uteri. Menggunakan lateral jari tangan, disusuri dan dicari pinggir perlekatan (insersi) plasenta. 
  • Tangan obstetri dibuka menjadi seperti memberi salam, lalu jari-jari dirapatkan. 
  • Tentukan tempat implantasi plasenta, temukan tepi plasenta yang paling bawah. 
  • Gerakkan tangan kanan ke kiri dan kanan sambil bergeser ke arah kranial hingga seluruh permukaan plasenta dilepaskan. 
  • Jika plasenta tidak dapat dilepaskan dari permukaan uterus, kemungkinan plasenta akreta. Siapkan laparotomi untuk histerektomi supravaginal. 
  • Pegang plasenta dan keluarkan tangan bersama plasenta. 
  • Pindahkan tangan luar ke suprasimfisis untuk menahan uterus saat plasenta dikeluarkan. 
  • Eksplorasi untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih melekat pada dinding uterus.
  • Periksa plasenta lengkap atau tidak, bila tidak lengkap, lakukan eksplorasi ke dalam kavum uteri. 

2.6.1.4. Komplikasi Tindakan Plasenta Manual
  • Terjadinya perforasi uterus
  • Terjadinya infeksi : terdapat sisa plasenta atau membran dan bakteri terdorong kedalam rongga rahim 
  • Terjadinya perdarahan karena atonia uteri ( Manuaba, 1998 )

2.6.2. Penanganan plasenta akreta

  • Tanda penting untuk diagnosis pada pemeriksaan luar adalah ikutnya fundus atau korpus bila tali pusat ditarik. Pada pemeriksaan dalam sulit ditentukan tepi plasenta karena implantasi yang dalam.
  • Upaya yang dapat dilakukan pada fasilitas kesehatan dasar adalah menetukan diagnosis, stabilisasi pasien dan rujuk kerumah sakit rujukan karena kasus ini memerlukan tindakan operatif.

2.7. Karakteristik Ibu Bersalin dengan Retensio Plasenta

Adapun karakteristik ibu bersalin dengan retensio plasenta adalah :
1. Umur
Harlock (1999) dan Balai Pustaka (2002) mengatakan bahwa, umur adalah indeks yang menempatkan individu dalam urutan atau lamanya seorang hidup dari lahir sampai mengalami retensio plasenta. Faktor yang mempengaruhi tingginya kematian ibu adalah umur, masih banyaknya terjadi perkawinan dan persalinan diluar kurun waktu reproduksi yang sehat adalah umur 20-30 tahun. Pada Usia muda resiko kematian maternal tiga kali lebih tinggi pada kelompok umur kurang dari 20 tahun dan kelompok umur lebih dari 35 tahun (Mochtar, 1998). Tingginya Angka Kematian Ibu pada usia muda disebabkan belum matangnya organ reproduksi untuk hamil sehingga dapat merugikan kesehatan ibu maupun perkembangan dan pertumbuhan janin. (Manuaba, 1998).

2. Paritas
Paritas lebih dari 3 mempunyai angka kematian lebih tinggi, lebih tinggi paritas lebih tinggi kematian maternal. Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya retensio plasenta adalah sering dijumpai pada multipara dan grande multipara ( Sarwono, 2005).

Multipara adalah seorang ibu yang pernah melahirkan bayi beberapa kali ( samapi 5 kali), sedangkan grande multipara adalah seorang ibu yang pernah melahirkan bayi 6 kali atau lebih, hidup atau mati ( Sarwono, 2005 ).

Insiden perdarahan post partum dengan retensio plasenta, faktor resiko yang berpengaruh terhadap kejadian ini adalah multiparitas ( paritas > 3 ), faktor resiko lebih dari 3 dapat meningkatkan resiko hampir 5 kali dibandingkan dengan 2 faktor resiko ( Geocities, 2006 ).

Menurut Ramali (1996) paritas adalah banyaknya kehamilan dan kelahiran hidup yang dimiliki seorang wanita pada grande multipara yaitu ibu dengan jumlah kehamilan dan persalinan lebih dari 5 kali masih banyak terdapat resiko kematian maternal dari golongan ini adalah 8 kali lebih tinggi dari yang lainnya (Mochtar, 1998). Adapun paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (>3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi, semakin tinggi paritas maka cenderung akan semakin meningkat pula kematian maternal dan perinatal ( Prawirohardjo, 2002).

3.Interval Kelahiran Anak
Usaha pengaturan jarak kelahiran akan membawa dampak positif terhadap kesehatan ibu dan janin.Interval kelahiran adalah selang waktu antara dua persalinan (Ramali, 1996). Perdarahan postpartum karena retensio plasenta sering terjadi pada ibu dengan interval kelahiran pendek (<2 tahun ), seringnya ibu melahirkan dan dekatnya jarak kelahiran mengakibatkan terjadinya perdarahan karena kontraksi rahim yang lemah (Chalik. MTA, 1998).

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian tersebut maka ada beberapa hal yang dapat di simpulkan yaitu sebagai berikut. Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta tidak lahir selama dalam waktu atau lebih dari 30 menit setelah bayi lahir. Ada dua keadaan yang menyebabkan terjadinya retensio placenta yaitu :
  1. Plasenta belum lepas dari dinding rahim dikarenakan placenta tumbuh melekat lebih dalam dan.
  2. Plasenta telah terlepas akan tetapi belum dapat dikeluarkan. (masih ada sisa-sisa potongan plasenta di rahim)

Masalah yang terjadi akibat dari retensio plasenta adalah perdarahan bahkan bisa berakibat syok.

3.2 Saran

Penyebab utama kematian ibu sendiri menurut (WHO) adalah perdarahan, semoga dalam makalah ini dapat memberikan wawasan sehingga dapat mencegah terjadinya kematian karena perdarahan akibat dari retensio plasenta.

Penulis menyarankan agar pembaca dapat mencari referensi lain tentang retensio plasenta pada kehamilan dan juga perdarahan untuk diaplikasikan sehingga dapat mencegah dan menurunkan angka kematian ibu di Indonesia.

Sumber:

http://diyahhalsyah.blogspot.co.id/2015/03/makalah-tentang-retensio-plasenta-bab-i.html
Lutan D, 1998. Sinopsis Obstetri.Jakarta: EGC 
Manuaba IBG, 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan.Jakarta : EGC 
http://bidanshop.blogspot.co.id/2015/11/manual-plasenta.html
https://aniksensasi.wordpress.com/2015/06/10/makalah-askeb-gadar-retensio-plasenta/

Admin
Seorang sarjana salah jurusan, penggemar Naruto, hobi membaca komik, nonton Drakor dan Menulis Puisi, Cerpen dan Novel. Pencinta alam dan penggemar Edelweis.

Sign out
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai
How to style text in Disqus comments Top Disqus Commentators
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parse Tool Hide Parse Tool

How to get ID DISQUS - http://disq.us/p/[ID DISQUS]

strong em u strike
pre code pre code spoiler
embed

0 Comment

Add Comment

Show Parse Tool Hide Parse Tool